top of page

Biar Uang Nggak Cuma "Numpang Lewat": Panduan Lengkap Jenis Investasi Terbaik untuk Pemula di 2026

  • Writer: sarah yonaha
    sarah yonaha
  • Jan 6
  • 3 min read

Pernah nggak sih ngerasa gaji atau uang saku kayak cuma "mampir" doang di rekening? Baru gajian tanggal 25, eh tanggal 5 udah harus diet ketat. Kalau kamu merasa begini, itu tandanya kamu butuh lebih dari sekadar menabung. Kamu butuh investasi.


Dulu, investasi mungkin kelihatan kayak dunianya bapak-bapak pakai jas yang sibuk liatin grafik di depan monitor. Tapi sekarang? Sambil rebahan dan modal 10 ribu perak pun, kamu sudah bisa jadi investor. Masalahnya, saking banyaknya pilihan, pemula sering bingung: “Mending beli saham, kripto, atau emas aja ya?”


Biar nggak salah langkah, yuk kita kupas tuntas jenis-jenis investasi yang ramah buat pemula, lengkap dengan risiko dan datanya!


Kenapa Harus Mulai Sekarang?

Sebelum masuk ke jenisnya, kamu harus paham konsep Compounding Interest (bunga berbunga). Data dari Standard & Poor's menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, pasar modal rata-rata memberikan imbal hasil yang jauh melampaui inflasi.


Kalau kamu menunda investasi hanya karena nunggu punya uang banyak, kamu kehilangan "waktu" yang sebenarnya adalah aset termahal dalam investasi.



Daftar Investasi yang Cocok untuk Pemula


1. Reksa Dana (Khususnya Reksa Dana Pasar Uang)

Reksa dana adalah wadah di mana uang dari banyak investor dikumpulkan untuk dikelola oleh Manajer Investasi (MI) ke berbagai instrumen.


  • Kenapa Cocok? Kamu nggak perlu pusing mikirin strategi. Ada profesional yang ngaturin.

  • Risiko: Sangat rendah hingga menengah.

  • Modal: Mulai dari Rp10.000.


Menurut laporan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir 2025, jumlah investor reksa dana terus mendominasi pasar modal Indonesia karena kemudahan aksesnya melalui aplikasi APERD (Agen Penjual Reksa Dana).


Tentu, ini adalah draf artikel mendalam yang dirancang untuk menarik audiens pemula (Gen Z dan Milenial) dengan gaya bahasa santai namun tetap informatif dan berbobot.


2. Emas (Logam Mulia)

Emas sering disebut sebagai safe haven. Harganya cenderung naik saat kondisi ekonomi dunia lagi nggak menentu atau inflasi tinggi.


  • Kenapa Cocok? Bentuknya jelas (fisik atau digital), sangat likuid (gampang dijual lagi), dan harganya cenderung stabil naik dalam jangka panjang (5-10 tahun).

  • Risiko: Risiko kehilangan (jika fisik) dan fluktuasi harga jangka pendek.

  • Modal: Bisa beli digital mulai dari 0,01 gram.


Secara historis, harga emas Antam dalam 10 tahun terakhir rata-rata mengalami kenaikan sekitar 10-12% per tahun.


3. Surat Berharga Negara (SBN)

Ini ibaratnya kamu meminjamkan uang ke pemerintah Indonesia untuk pembangunan negara, dan pemerintah janji bakal bayar balik plus bunganya (kupon).


  • Kenapa Cocok? 100% aman karena dijamin undang-undang. Nggak ada ceritanya pemerintah gagal bayar buat rakyatnya sendiri.

  • Jenis: Ada ORI, SBR, Sukuk Tabungan, dan Sukuk Ritel.

  • Modal: Minimal Rp1.000.000.


Data dari Kementerian Keuangan RI menunjukkan bahwa minat investor milenial pada SBN terus memecahkan rekor setiap tahunnya karena kupon yang ditawarkan biasanya lebih tinggi dari bunga deposito bank BUMN.


4. Deposito Digital

Beda dengan deposito bank konvensional yang ribet, bank digital zaman sekarang menawarkan bunga tinggi dengan syarat yang gampang banget.


  • Kenapa Cocok? Bunganya bisa mencapai 5-8% per tahun, jauh di atas tabungan biasa.

  • Risiko: Sangat rendah, selama bank tersebut terdaftar di LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).


5. Saham Blue Chip

Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Buat pemula, sangat disarankan pilih saham Blue Chip—yaitu perusahaan besar dengan rekam jejak keuangan yang sehat (contoh: BBCA, TLKM, ASII).


  • Kenapa Cocok? Potensi keuntungan besar dari kenaikan harga saham (capital gain) dan pembagian laba (dividen).

  • Risiko: Tinggi (High Risk High Return). Harga bisa turun drastis dalam sehari.


Perbandingan Keuntungan (Estimasi Per Tahun)



Langkah Memulai Buat Kamu yang Masih "Newbie"


1. Beresin Dana Darurat Dulu

Jangan pakai uang makan buat investasi! Pastikan kamu punya dana cadangan minimal 3-6 kali pengeluaran bulanan. Ini penting supaya kalau investasi kamu lagi turun, kamu nggak panik lalu terpaksa jual rugi.


2. Kenali Profil Risiko

Kamu tipe yang "santuy" kalau uangnya berkurang dikit (Konservatif), atau tipe yang berani rugi demi untung gede (Agresif)?


  • Konservatif: Reksa dana pasar uang & Emas.

  • Agresif: Saham & Kripto.


3. Gunakan Aplikasi yang Terdaftar di OJK

Ini harga mati. Jangan pernah setor uang ke aplikasi yang nggak jelas izinnya. Pastikan ada logo OJK (Otoritas Jasa Keuangan) untuk keamanan dana kamu.


Berdasarkan data satgas waspada investasi (SWI), ribuan investasi bodong ditutup setiap tahun karena beroperasi tanpa izin resmi.


4. Diversifikasi (Jangan Taruh Telur di Satu Keranjang)

Jangan taruh semua uangmu di saham saja. Kalau saham anjlok, ludes semua. Bagi-bagi; misalnya 50% di reksa dana (aman), 30% di emas (stabil), dan 20% di saham (agresif).

Investasi bukan cara cepat kaya dalam semalam. Investasi adalah maraton, bukan lari sprint. Kunci utamanya bukan seberapa besar modalnya, tapi seberapa konsisten kamu menyisihkan uang setiap bulannya.


Jadi, dari daftar di atas, mana nih yang paling menarik buat kamu coba duluan? Ingat, waktu terbaik untuk investasi adalah 10 tahun yang lalu, tapi waktu terbaik kedua adalah HARI INI.

Disclaimer: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan ajakan finansial mutlak. Setiap investasi memiliki risiko. Lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan.



Comments


© 2025 Software System Solutions

bottom of page